Sukses Story

Batik ber-SNI yang Memberdayakan Penyandang Difabel

Seiring berkembangnya bisnis batik di Indonesia yang ditandai dengan banyaknya perusahaan penyedia batik seperti batik lukis, batik kombinasi dan lain-lain memunculkan budaya kesadaran akan produk dalam negeri dalam masyarakat. Dengan jumlah pemakai / pelanggan batik begitu besar (kurang lebih 200 juta), maka kebutuhan akan model desain batik menjadi kebutuhan primer masyarakat Indonesia, sehingga saat ini dapat kita saksikan di perkotaan, pasar-pasar tingkat kecamatan bahkan sudah sampai tingkat pedesaan banyak kita jumpai para pemakai batik. Hal tersebut menjadi potensi bisnis yang menjajikan.

Dengan modal keberanian dan visi yang kuat, Batik Mutiara Hasta terjun ke bisnis batik pada tahun 1990 di Semarang. Bahkan BMH memulai bisnis batik benar-benar dengan fasilitas yang lengkap. Tidak hanya itu, karena pada awalnya BMH sudah merasakan kesusahan dalam mencari tenaga pembatik, tidak lama BMH juga menjadi tempat pelatihan membatik. Kemudian BMH menjelma menjadi Mutiara Hasta Batik Course Classical & Contemporary yang kini berlokasi di Semarang dan Jogjakarta.

“Waktu itu kami merasa kesulitan mencari tenaga pembatik, sehingga muncul gagasan untuk mencari tenaga pembatik sehingga muncul gagasan untuk melahirkan sendiri tenaga pembatik tersebut,” kata Owner Batik Mutiara Hasta, Rujiman Slamet.

Pelatihan yang diberikan BMH adalah pelatihan membatik dan pelatihan pewarnaan sintesis dan alam. Pemberdayaan SDM memang menjadi latar belakang kuat berdirinya BMH. Dalam hal ini BMH bekerja sama dengan instansi terkait di Kota Semarang meliputi; Balai Latihan Kerja Disnaker Kota Semarang , Dinas Perindustrian , Dinas Koperasi, dan Dinas Sosial.

Hal yang cukup menarik dari UKM BMH adalah 80% pekerjanya adalah penyandang difabel. “ Kami memberikan peluang usaha bagi SDM yang terlatih, dengan skala prioritas di kalangan kaum difabel,” ujar Rujiman. Tenaga kerja di BMH saat ini berjumlah 12 orang dengan susunan 2 tenaga pewarna, 2 tenaga cap, 2 tenaga design/sket, 1 manajemen, dan 5 tenaga pecanting. Untuk jenis- jenis produk batik yang dihasilkan meliputi; Batik Tulis, Batik Cap, Batik Kombinasi, Kaos Luka Batik, dan Kerudung Lukis. Rujiman mengakui bahwa letak persaingan bisnis batik yang ia rasakan saat ini berada dalam lingkup kualitas & kuantitas produksi, inovasi motif & pewarnaan baru.

“Untuk menghadapi persaingan produk kami selalu berinovasi , selalu memunculkan trik pewarnaan baru , mengikuti trend fashion terkini,” tutur Rujiman. Selain itu menjaga mutu & kualitas untuk customer, memberikan pelayanan yang terbaik untuk customer , dan menjalin kerjasama bisnis yang bagus menjadi pondasi dasar melangsungkan bisnisnya untuk semakin eksis dan berkembang.

Terkait mutu, BMH telah berhasil memperoleh sertifikat SNI 8302:2016 Batik Tulis, SNI 8303:2016 Batik Cap, serta SNI 8304:2016 Batik Kombinasi. Diungkapkan Rudjiman jika selama proses sertifikasi, ia benar-benar mencermati bagaimana manajemen seharusnya berjalan, alur produk yang benar, dan alur proses yang benar.

Selama proses tersebut juga, pihaknya tidak terlalu menemui kendala yang berarti. Menurutnya, pendampingan dari instansi terkait khususnya BSN dilangsungkan secara komprehensif dan tidak memberatkan. “Malah kami justru banyak mendapatkan referensi yang bagus,” tegasnya.

Rujiman mengungkapkan bahwa setelah menerapkan dan mendapat sertifikat SNI 8302 Batik Tulis, SNI 8303 Batik Cap, serta SNI 8304 Batik Kombinasi, usahanya semakin maju karena mampu menembus pasar yang semakin luas hingga keluar jawa.

Rudjiman mentargetkan BMH selain mampu senantiasa menjaga serta meningkatkan kualitas maupun kuanititas, pihaknya ingin terus berinovasi dan merambah kearah fashion yang up to date. Maka dari itu ia berharap, BSN masih terus membina usahanya dan dapat memberikan pengetahuan tentang manajemen pemasaran. (INA)


SHARE