Keliping Berita

BSN Mendukung Efektivitas Penerapan GRC Organisasi Melalui Standardisasi


Governance, Risk Management, and Compliance (GRC)  Summit Indonesia 2020 yang diadakan secara virtual pada Kamis, (17/09/2020), turut mengundang Kepala Badan Standardisasi Nasional (BSN), Kukuh S. Achmad sebagai Narasumber utama untuk memaparkan materi mengenai integrated GRC dari perspektif standardisasi yang telah menjadi tren di dunia. Adapun tema acara yang diusung pada tahun ini adalah Integrated GRC Embracing A Better New Normal, sebagai persiapan untuk menghadapi kenormalan baru tiba dengan penerapan GRC secara terpadu.

Mengawali pemaparannya, Kukuh menjelaskan bahwa kegiatan standardisasi terdiri dari tiga kegiatan utama, pertama adalah penyusunan Standar  Nasional Indonesia (SNI) yang merupakan hasil konsensus semua pihak yang berkepentingan yaitu wakil  dari pemerintah, industri, profesional, dan konsumen; kedua adalah penerapan SNI yang pada dasarnya adalah sukarela namun yang terkait kesehatan, keamanan, juga keselamatan bisa diwajibkan oleh ketentuan yang diatur dalam agreement technical  barrier to trade World Trade Organization (WTO), selanjutnya adalah proses sertifikasi sebagai pembuktian penerapan SNI itu sendiri.

“SNI juga digunakan untuk memfasilitasi sektor voluntary, GRC sudah saatnya diselaraskan dengan regulasi-regulasi yang ada di Indonesia yang berkaitan dengan kepatuhan, manajemen risiko, dan tata kelola” Ujar Kukuh.

Selanjutnya, governance dalam payung GRC berperan sebagai bentuk pengendalian, perlu melakukan manajemen risiko untuk merespons ketidakpastian yang mungkin terjadi, organisasi juga perlu memantau dan memastikan bahwa seluruh kebijakan, pengendalian, dan peraturan yang berlaku yang masuk dalam lingkup aktivitas organisasi harus dipatuhi melalui sistem manajemen kepatuhan atau compliance. Untuk mengimplementasikan hal tersebut semua diperlukan adanya standar atau  panduan dalam pelaksanaannya. Ketika organisasi standar internasional seperti International Organization for Standardization (ISO) menerbitkan panduan tentang governance, risk management, and compliance sudah saatnya komunitas yang aktif menggunakan standar-standar tersebut sebagai referensi” Tegas Kukuh. Beberapa SNI adopsi identik dari ISO yang sudah diterbitkan BSN diantaranya adalah SNI ISO Guide 73:2016 Manajemen risiko – Kosakata, SNI ISO 31000:2018 Manajemen risiko – Pedoman. Lanjut Kukuh

Di dalam lingkungan ISO terdapat Komite Teknis atau Technical Committee (TC) yang menyusun standar, adapun yang berkaitan dengan manajemen risiko disusun oleh ISO/TC 262, kemudian ISO/TC 309 bertanggung jawab untuk menyusun standar berkaitan dengan tata kelola organisasi. Ketika terdapat standar yang berjudul guidance maka tidak untuk keperluan sertifikasi, namun ketika banyak negara menggunakannya dan menjadi bagian dari regulasi di Indonesia maka standar guidance ISO yang telah diadopsi menjadi SNI tersebut  bisa dijadikan referensi agar pengelolaan GRC di Indonesia antar organisasi bisa selaras, agar cita-cita untuk memberikan yang terbaik bagi NKRI dapat terwujud. Pungkas Kukuh

BSN siap mendukung penerapan GRC dengan menebitkan standar terkait, terutama standar mengenai  manajemen risiko yang  dapat diintrodusir kepada Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi sebagai panduan peraturan di seluruh area perubahan reformasi birokrasi. BSN tetap berkomitmen membantu para Pemangku Kepentingan yang membutuhkan panduan standar. Demikian kesimpulan pemaparan  oleh Kepala BSN, Kukuh S. Achmad pada acara GRC Summit 2020. 

SHARE