Keliping Berita

Webinar BESTAN BSN: SNI ISO 22301 2014 Sistem Manajemen Kelangsungan Usaha

Antisipasi terhadap bencana dewasa ini menjadi perhatian global, khususnya antisipasi terhadap dampak dari wabah global Covid-19 yang terjadi saat ini yang menyebabkan banyak hal yang tidak terduga sebelumnya, tidak hanya dari segi kesehatan, bahkan juga dampak sosial serta ekonomi. Untuk itu, peranan standar yang memandu kelangsungan usaha dipandang sangat esensial dan semakin relevan di kondisi seperti saat ini. Dalam kesempatan kali ini, Wakil Ketua Komite Teknis 13-08, Penanggulangan Bencana, Aunur Rofiq Hadi memberikan pengantarnya mengenai sistem manajemen kelangsungan usaha atau Business Continutiy Management System (BCMS), ISO 22301 mengalami evolusi yang diawali oleh IT disaster recovery (ITDR) pada tahun 80 hingga 90-an sebagai antisipasi apabila terjadinya crash pada sistem dan jaringan. Memasuki tahun 2000-an, ITDR berkembang ke arah risk management, terutama pada sektor finansial, atau Financial Risk Management (FRM) karena pada era ini mulai banyaknya transaksi foreign exchange (FOREX). Menurut Aunur Rofiq Hadi, evolusi ISO 22301 mengadopsi dua hal “Yang pertama mengenai sistem manajemen, ISO 9001 tentang quality, ISO 14001 tentang lingkungan, ISO 19001 tentang auditing, ISO 31000 tentang risk management guideline. Kedua, kejadian yang memicu munculnya standar business continuity management sewaktu terjadi insiden di gedung World Trade Center, New York yang menyebabkan perusahaan-perusahaan lokal collapse dan harus berpindah tempat dari New York agar ada kelangsungan bisnis. Selain itu, pandemi Ebola dan SARS pada tahun 2003 menyebabkan beberapa perusahaan collapse. Dari kejadian-kejadian tersebut sebagai awal munculnya standar sistem manajemen kelangsungan usaha ISO 22301 pada tahun 2012.” Hal tersebut terungkap pada webinar Bedah Standar (Webinar BESTAN) SNI ISO 22301 2014 yang diselenggarakan oleh Badan Standardisasi Nasional (BSN), pada Sabtu 16 Mei 2020.

Sistem manajemen kelangsungan usaha dimulai dari perencanaan (Plan) business impact analysis, dilakukan (Do) simulasi, pengecekan (Check) Evaluasi, dan pelaksanaan (Action), diberikan umpan balik (feedback), kemudian kembali pada perencanaan. Jelas Aunur Rofiq Hadi. Hal ini sesuai yang ada pada SNI ISO 22301 Kepentingan Usaha yang bertujuan untuk mencapai tujuan perusahaan, menciptakan saya saing, menjaga reputasi, dan ketahanan usaha. Sambungnya.

BCMS yang utama adalah melindungi kepemilikan baik fisik maupun hak perusahaan lainnya, memberikan harapan kepada stakeholder walaupun terjadi bencana, membangun kepercayaan diri pada internal organisasi kepada segala gangguan. Kemudian, ruang lingkup ISO 22301 adalah bagi perusahaan yang akan melaksanakan, menjaga maupun meningkatkan BCMS, mencari ketepatan kebijakan dalam menjaga keberlangsungan usaha, kebutuhan untuk tetap menghasilkan produk maupun jasa dengan kapasitas yang memadai selama ada gangguan, mencari ketahanan perusahaan melalui penerapan BCMS.  Ujar Aunur Rofiq Hadi.

Aunur Rofiq Hadi pun memberikan catatan penting mengenai penerapan ISO 22301, bahwa pandemi ini merupakan gangguan besar sehingga memerlukan manejemen khusus untuk menangani keberlanjutan usaha; diperlukan konsultan bisnis yang mengerti tentang analisis dampak krisis dan manajemen risiko untuk menerapkan ISO 22301; ISO 22301 dapat diterapkan pada satu perusahaan atau organisasi pada suatu wilayah, sehingga PEMDA dapat menerapkan untuk keberlanjutan bisnis di daerahnya; dimasa yang akan datang perlu untuk memberikan sertifikat pada perusahaan atau organisasi yang telah mempraktekkan ISO 22301; ancaman terhadap keberlangsungan usaha baik kecil maupun besar perlu untuk diantisipasi, penerapan ISO 22301 akan lebih memungkinkan perusahaan untuk bertahan.

Memasuki ke pembicara kedua yaitu Founder and Principal of Center for Risk Management and Sustainability (CRMS) Indonesia, Antonius Alijoyo yang menjabarkan definisi risiko “Risiko Adalah efek dari ketidakpastian terhadap objektif atau tujuan perusahaan. Disini terdapat kata-kata inti yaitu efek, adalah deviasi dari yang diharapkan, bisa positif atau negatif. Negatif memiliki pengertian hal buruk bisa terjadi, sedangkan positif dalam arti  hal-hal baik namun gagal dalam mencapainya. Kemudian, uncertainty, adalah suatu kondisi yang tidak dipahami kemungkinan kejadian beserta dampaknya. Berikutnya, objective adalah sasaran organisasi yang terukur. Jadi, resiko hanya terjadi kalau ada objective dan ada dampak ketidakpastian dari pencapaian objective tersebut.”

Mengutip dari presentasi yang berjudul Business Continuity Management (BCM) in the Perspective of Risk Management (RM), uncertainty akan ada dan alamiah karena dalam pengambilan keputusan dan melakukan aksi sekarang mengharapkan memperoleh manfaat di masa yang akan datang, jeda waktu antara masa sekarang dan masa yang akan datang menimbulkan risiko ketidakpastian untuk mencapainya; risk adalah efek dari ketidakpastian yang belum terjadi; problem merupakan potensi dari ketidakpastian yang sudah terjadi; sedangkan crisis ketika gagal mempertahankan nilai organisasi; apabila kegagalan mempertahankan nilai organisasi secara berkepanjangan adalah disaster. Cakupan dari disaster mulai dari yang disebabkan oleh alam hingga kegagalan operasional perusahaan, juga tidak dapat menghasilkan produk atau jasa.

Antonius Alijoyo mengungkapkan alasan diperlukannya penerapan BCM yaitu apabila terjadi disaster tidak terjadi kepanikan karena perusahaan atau organisasi sudah tahu apa yang harus dilakukan sehingga tercipta ketangguhan lebih dibandingkan pesaing, dan lain-lain. Pada akhirnya, dapat mempersingkat waktu dan memperkecil biaya untuk pemulihan atau recovery bisnis, dan saat ini sudah tersedia ISO 22301:2019.

 

Kepala Divisi Manajemen Risiko PT Bursa Efek Indonesia, Koordinator Business Continuity Management PT Bursa Efek Indonesia, Kris Yarismal adalah pembicara ketiga webinar Bestan ini yang mengulas mengenai penerapan SNI ISO 22301:2014 di lingkungan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dan implementasi pada masa pandemi Covid-19. Pada awal presentasinya, Kris Yarismal memaparkan perjalan pengembangan BCMS di BEI yang dimulai sejak tahun 1995 saat beralihnya sistem manual kepada komputerisasi sistem perdagangan yang terus fokus pada pengembangan Teknologi Informasi sampai pada tahun 2000, dimana ada insiden di Gedung Bursa Efek Jakarta (BEJ) yang memicu pengembangan Data Recovery Center (DRC) Bursa Efek Indonesia (BEI) di tahun 2005 hingga tahun 2012 berikut pembentukan fungsi BCMS.  Pada tahun 2018 BEI mendapatkan sertifikasi ISO 22301:2012 untuk fungsi perdagangan.

BEI memiliki komitmen untuk menjalankan BCMS dengan dibentuknya struktur organisasi tersebut, agar penerapannya merata sudah ada BCMS steering committee oleh perwakilan Direksi yang berkaitan dengan operasional, Business Continuity Division Head yang membantu untuk berinteraksi kepada seluruh Kepala Divisi sampai kepada unit-unit di dalam organisasi. Saat terjadi gangguan, BEI sudah mempersiapkan tim atau struktur yang membentuk Crisis Management Team (CMT). Jelas Kris Yarismal

Keterkaitan fungsi BCMS BEI dalam masa pandemi Covid-19 turut dijabarkan oleh Kris Yarismal, dengan adanya pedoman BCMS, BEI tidak panik dan  menjaga komunikasi secara aktif untuk memantau perkembangan yang ada dengan pihak-pihak eksternal. Hal tersebut dilakukan oleh fungsi BCMS dalam struktur organisasi. Semenjak Januari 2020, BEI sudah mendeteksi adanya kejadian pneumonia akut di Wuhan, Tiongkok dan informasi mengenai terkonfirmasinya mengenai penyebaran wabah tersebut ke berbagai negara. Kemudian, BEI mengumpulkan informasi dengan berbagai pihak termasuk pengelola gedung dan supplier pendukung operasional BEI.

Memasuki Bulan Februari, BEI melihat dampak wabah tersebut dari sisi internal yang diperlajari dari berbagai sumber termasuk dari website Kementerian Kesehatan. Pada Bulan Maret, merupakan puncak dari operasional Tim BCMS BEI untuk mengantisipasi dampak Covid-19 termasuk hasil dari assessment Business Impact Analysis yang sudah dipersiapkan BEI sebelumnya yaitu memberlakukan work from home (WFH) dan lain-lain, yang lanjut diaplikasikan di Bulan April yang  mulai diberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk mengantisipasi dampak lebih lanjut pada pasar. Lanjut Kris Yarismal

Selanjutnya, nilai tambah dari penerapan BCMS SNI ISO 22301:2012 bagi BEI adalah menjadikan BEI lebih tanggap terhadap perkembangan bisnis dan teknologi, lebih proaktif dalam menganalisa kemungkinan-kemungkinan kondisi yang dapat menjadi gangguan operasional bisnis perusahaan, lebih siap dan cepat tanggap menangani gangguan bisnis dengan berbagai rencana yang mudah dipersiapkan dan terdokumentasi dengan lengkap, selalu memetic pelajaran dari berbagai gangguan bisnis yang telah terjadi di dalam perusahaan maupun pada institusi lainnya untuk terus melakukan review terhadap pedoman-pedoman BCMS.

Kedepannya, BEI akan terus melakukan review terhadap peraturan-peraturan baru, khususnya dampak dari Covid-19, risiko-risiko baru bagi bisnis yang berpotensi muncul dikemudian hari, serta persiapan “Back to Normal (New Normal)” terang Kris Yarismal.

Webinar yang dimoderatori oleh Kepala Bagian Layanan Informasi dan Perpustakaan BSN, Minanuddin ini memfasilitasi untuk eksplorasi lebih lanjut mengenai BCMS antara peserta dan para narasumber.

SHARE