Sukses Story

Berani Tembus Pasar Ritel Berbekal SNI

Berawal dari keisengan, Dewi Isabella (48) berhasil membuka 7 outlet di Jakarta dan meraih berbagai penghargaan dengan membuka usaha siomay ikan tenggiri. Di tahun 2018, siomay ikan tenggiri dengan merek Chipsy miliknya juga berhasil menerapkan Standar Nasional Indonesia (SNI) dan siap menembus pasar ritel.

Dewi mengisahkan, ia merintis Siomay Chipsy  sejak 1 Agustus 2003 silam di rumahnya yang berlokasi di Jalan Panjang, Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta. Saat itu, ia mulai usaha dengan nama SiomaymChip. Usaha olahan hasil perikanan ini dimulai karena kesukaan Dewi menyantap siomay. Ia pun iseng-iseng memproduksi siomay sendiri secara rumahan. Bersama rekannya yaitu seorang penjual siomay keliling, Dewi mengembangkan siomay berbahan baku ikan tenggiri. Pemilihan jenis makanan berupa siomay tenggiri dipilih karena di pasaran belum banyak produk siomay yang murni menggunakan ikan tenggiri.

“Saya buka kios, saya jualan di sekolah anak saya. Zaman itu anak-anak kecil agak susah makan ikan. Nah di situ saya merasa bagaimana caranya anak kecil gemar makan ikan,” ujar Dewi. Siomay ikan tenggiri yang ia tawarkan pun diterima dengan baik.

Dengan makin bertambahnya konsumen, Siomay Chipsy berkomitmen menjaga mutu, cita rasa, kelezatan, dan tingkat higienis produk. Untuk itu, pembuatan siomay menggunakan bahan
baku yang prima dan segar. Misalnya, untuk ikan tenggiri, disuplai langsung dari nelayan di Jakarta. Dewi mengaku siomay miliknya dibuat Tak berhenti di situ, untuk tetap menjaga mutunya, mulai tahun 2017 Dewi menerapkan Standar Nasional Indonesia (SNI) 7756:2013 Siomay Ikan. Dalam penerapan SNI, Dewi mendapatkan bimbingan dari Badan Standardisasi Nasional (BSN). Tidak hanya sebatas pendampingan, BSN juga membantu pembiayaan sertifikasi Siomay Chipsy.

Proses penerapan SNI tersebut membutuhkan waktu sekitar 10 bulan. Untuk menghasilkan siomay sesuai SNI, Dewi berujar timnya harus mampu memproduksi sesuai higienitas keamanan pangan, penyesuaian layout ruang produksi, mengajarkan karyawan agar mengerti bagaimana standar makanan yang benar, serta bagaimana mengatur makanan itu aman ketika dalam keadaan frozen.

Dalam penerapan SNI, Dewi cukup mengalami kendala. Karena semua karyawan Siomay Chipsy adalah karyawan yang putus sekolah, mereka membutuhkan waktu untuk memahami
SNI. “Jadi kita harus mengajarkan mereka untuk konsisten. Itu yang membuat kita harus mengajarkan mereka berulang-ulang sampai saat ini, agar tetap melakukan apa yang telah diajarkan pada waktu tim BSN datang,” kata Dewi.

Namun mereka tak patah semangat. Walaupun para karyawan tidak mempunyai basis ilmu dalam bidang produksi pangan, Dewi tetap mengajak semua karyawan harus kompak. “Bukan saya sendiri yang pinter, tapi kita semua pinter bersama-sama. Itu butuh waktu dan kesabaran untuk mereka mengerti produk yang kita buat ini harus betul- betul berstandar. Harus dijalankan standarnya,” tuturnya.

Ia mengakui, setelah menerapkan SNI, manfaat yang didapat adalah pelanggan jadi menjadi yakin dan percaya bahwa produk siomay ikan tenggiri yang diproduksi dijamin aman, lolos uji SNI dan terbuat dari bahan baku yang berkualitas. “Saya bilang kepada karyawan, kita harus konsisten untuk sesuai SNI. Karena memegang sertifikat ini suatu amanah yang harus dijaga,” kata Dewi. Menurutnya, pencantuman logo SNI di kemasan siomay harus dipertanggungjawabkan. Jika tidak, akan berakibat fatal bagi usaha Siomay Chipsy sendiri.

Selain menerapkan SNI, Siomay Chipsy juga memperbaiki pelayanan dengan meningkatkan kemampuan tenaga kerja sehingga menjadi tenaga professional, membuat inovasi produk jenis lain, serta menambah kerja sama dengan perusahaan katering.

Saat ini, Dewi telah memiliki 7 cabang outlet yang berada di Kebayoran Baru (Jakarta Selatan), Petukangan Selatan (Jakarta Selatan), Kantin Wali Kota Jakarta Barat, ITC Roxy Mas (Jakarta Pusat), Kantin Bank Panin Pusat (Jakarta Selatan), Food Centre 7-8-9 (Jakarta Barat), dan Ruko Sentra Menteng (Bintaro, Tangerang Selatan).

Produk Siomay Chipsy dipasarkan kepada konsumen perorangan, kantor, perusahaan catering, rumah makan dan café, dan lain-lain. Ke depan, Dewi menargetkan Siomay Chipsy dapat menembus pasar ritel.

“Plan saya, nanti insya Allah setelah lebaran, kita akan me-launching produk makanan yang ber-SNI dengan kemasan frozen. Dan setelah ber-SNI, saya merasa percaya diri untuk melakukan penjualan dengan online seluruh Indonesia dan masuk ke pasar ritel,” harap Dewi.

Dalam perjalanannya, Siomay Chipsy nyatanya dapat meraih banyak penghargaan, antara lain Juara I lomba UMKM Pengolahan Hasil Perikanan dari Dinas Kelautan dan Pertanian Pemerintah Provinsi
DKI Jakarta tahun 2011, 2012, dan 2013. Siomay Chipsy juga menerima penghargaan Adhi Bhakti Mina Bahari 2014 dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta penghargaan Adhikarya Pangan Nusantara 2014 dari Kementerian Pertanian.

Walaupun usaha siomay ini tergolong dalam usaha kategori UKM, tetapi kegiatan corporate social responsibility (CSR) tetap dilakukan. Menurut Dewi, kegiatan CSR merupakan bentuk tanggung jawab sosial mereka terhadap sesama warga masyarakat.

Kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan yakni tanggap bencana saat tejadi musibah banjir di Jakarta dengan mendirikan dapur umum; pembuatan Taman Bermain Anak setiap hari Minggu; memberikan santunan kepada warga tidak mampu di Jakarta, Majalengka, Pemalang, Cilacap, Semarang, dan Tegal; serta menyantuni anak yatim piatu dan lanjut usia di Majalengka, Jawa Barat.

Dengan pengalaman dalam mengolah siomay, didukung tenaga-tenaga yang ahli dan terampil, menggunakan bahan baku yang segar dan prima, serta selalu menjaga mutu dan rasa, Siomay Chipsy yakin akan selalu dapat menyajikan, melayani, dan memberikan kepuasan kepada konsumen. (IBN)


SHARE